Berdecak Kagum di Dream Theater: Along for the Ride Tour 2014

“Berdecak Kagum”, hanya kalimat itu yang muncul di pikiran saya setelah menyaksikan kelima professor musik beratraksi untuk kedua kalinya di negeri ini. Ya, dengan jeda waktu yang tidak terlalu lama sejak kedatangan pertama tahun 2012 lalu, tanpa diduga dua tahun kemudian Dream Theater kembali hadir di Jakarta. Semoga alasan mereka untuk kembali sama seperti yang saya pikirkan, yaitu puas dengan animo luar biasa dari penonton saat untuk pertama kalinya konser di Indonesia, yang seolah menjadi ejakulasi dari DT Mania di Indonesia untuk menyaksikan band progressive metal paling terkemuka di muka bumi dan saya boleh berbangga mengatakan bahwa Indonesia adalah satu dari sekian negara yang memiliki fan-base DT terbesar di dunia!

Pada kehadirannya yang kedua ini, terus terang rasa antusiasme saya tidak terlalu menggelora seperti saat mengetahui mereka datang dua tahun lalu. Dulu saya begitu bersemangat menyambut DT (maklum band yang saya idam-idamkan selama ini akhirnya datang juga). Namun saat yang kedua ini, kayak biasa aja. Entahlah. Tapi pada akhirnya saya tetap nonton juga 🙂

20141026_164316

Saya coba sedikit mereview hasil nonton saya tadi malam. Ketika memasuki kawasan Senayan sekitar pukul 16.00 WIB, dari kejauhan sudah tampak rombongan manusia berbaju hitam yang lumayan banyak. Pikir saya, wah membludak kayak dua tahun lalu nih! Memasuki jam 17.00 WIB, jamaah pun terlihat sudah semakin memenuhi Lapangan D dan bahkan mulai sedikit mendorong-dorong gerbang sambil berteriak “BUKAA…BUKAA…” yang menunjukkan rasa tak sabar untuk segera menyaksikan junjunan progressive metal beraksi. Akhirnya pukul 17.30 WIB gate pun dibuka, dan mulailah para DT Mania berlarian berebut masuk. Herannya, ketika gate dibuka tampak petugas keamanan dan pengecek tiket seperti tidak siap. Hanya ada satu petugas yang mengecek tiket penonton di tiap kelasnya. Alhasil, keadaan tidak terkontrol dan petugas tampak kewalahan. Saya dengan sadar diri malah meminta petugas untuk menyobek tiket saya. Gimana yang langsung masuk aja tuh atau ga punya tiket?

20141026_175859

Setelah berada di dalam area konser, cukup lama kami harus menunggu mereka tampil. Sekitar pukul 19.30 WIB, announcer memberikan ucapan selamat datang dan menyampaikan prosedur keselamatan bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dan setelah itu announcer mengajak seluruh penonton untuk menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, seperti saat pembukaan konser Metallica Agustus 2013 lalu. Bedanya saat Metallica dipandu oleh Raissa 😛

Setelah menyanyikan Indonesia Raya, ternyata konser belum langsung mulai. Masih harus menunggu kira2 30 menit dan tepat pukul 20.00 WIB dibuka dengan intro False Awakening Suite yang diambil dari album terakhir mereka yaitu “Self-Title” dengan latar belakang graphic dari album-album DT sebelumnya.

20141026_22325320141026_22331920141026_22340220141026_223518

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terlalu bertele-tele kayanya kalo harus membahas lagu-lagu yang dimainkan. Karena setlist pada “Along For The Ride Tour” agak berbeda dengan kebiasaan DT pada konser-konser sebelumnya. Mereka terlebih dahulu membocorkan setlist yang dimainkan dan selama tour ini selalu memainkan lagu-lagu tersebut (CMIIW..) OK, langsung aja kepada beberapa lagu yang akan saya beri komentar:

– The Enemy Inside: lagu ini memang kembar-siam dengan intro False Awakening Suite. Setelah intro False Awakening Suite berakhir, langsung digempur dengan The Enemy Inside yang ditakdirkan sangat cocok menjadi lagu pembuka. Kepalan-kepalan tangan penonton pun langsung mengudara!

– The Shattered Fortress: saya pribadi sangat menyukai intro lagu yang satu ini. Hentakkan double pedal yang membahana membuat gahar lagu yang satu ini. Tapi jujur untuk lagu ini saya cuma suka sampai bagian tengah aja. Karena dari tengah sampai kebelakang, content lagunya mengambil lagu-lagu dari album-album sebelumnya, seperti part The Roots Of All Evil atau The Glass Prison. Entah kenapa, saya agak kurang suka.

– Trial of Tears: salah satu lagu favorit saya dari album Falling Into Infinity. Berdurasi 13 menit, lagu ini benar-benar menghanyutkan penonton dengan irama yang tidak terlalu keras, namun berbobot dari sisi permainan. Apalagi ketika sang frontman James La Brie masih mampu mencapai nada-nada tinggi dan lucunya dia mengganti lirik “New York City” di lagu tersebut menjadi “Jakarta”

– Along for the Ride: Lagu yang menjadi tema tour DT ini, menjadi satu-satunya lagu easy listening di album “Self-Title”. Melody keyboard yang dimainkan Jordan Rudess bener-bener JUARA!!

Intermission 15 menit bukan lagu, tapi di tour ini DT memasukkan jeda selama 15 menit. Dan break ini dimanfaatkan penonton untuk duduk-duduk dan memesan makanan atau minuman.

– The Mirror: lagu klasik yang dimunculkan dalam rangka memperingati 20 tahun album “Awake” ini selalu mengagumkan. Intro sound gitar yang berat dan diakhiri dengan riff-riff melody yang cepat masih mampu dilahap dengan sempurna oleh sang maestro, John Petrucci, yang kini lebih mirip Coky Bollemeyer.

– Illumination Theory: Lagu ini benar-benar segala-galanya. Epic song berdurasi 22 menit 17 detik khas DT yang luar biasa dan saya nanti-nantikan. Tempo keras lalu pelan dengan seketika memunculkan harmonisasi yang indah. Saat part “The Pursuit of Truth” kombinasi Mike Mangini dan John Myung benar-benar tanpa celah. Belum lagi Jordan Rudess yang memanfaatkan jari-jarinya menari diatas aplikasi GeoSynth App. Saya selalu memimpikan andaikan di konser sebelumnya ataupun konser mereka selanjutnya di Indonesia, mereka memainkan Octavarium / Six Degrees of Inner Turbulence / In The Presence of Enemies Part I & II / The Count of Tuscany, apa jadinya ya?

– The Dance of Eternity: Lagu ini menjadi bagian dari Encore rangkaian memperingati 15 tahun album “Metropolis Part II: Scenes From A Memory” yang dibawakan, selain Overture 1928, Strange Deja Vu dan Finally Free. Seorang Virgil Donati pernah mengatakan lagu ini adalah “The Mother Of All Pieces”. Sebuah lagu instrumental yang kaya akan teknik-teknik tingkat tinggi. Dan akhirnya saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana sang empu-nya memainkan lagu ini. Bagi band yang mencover lagu-lagu DT dan mampu memainkan lagu ini. Saya cuma bisa SALUUUTT!!!

Itulah sedikit review saya tentang konser fenomenal semalam. Secara sound, lighting, graphic artwork maupun performance konser kali ini luar biasa dan menjadi konser terbaik yang pernah saya saksikan. Namun dari sisi penasarannya, konser 2012 paling mengena buat saya. Tulisan ini hanya pendapat pribadi. Sori bila kurang berkenan. Keep the dream alive! \m/

20141026_225235

 

 

 

 

 

 

#menolakmoveon

Iklan