Kenyamanan Berpetualang dengan AirAsia

Awalnya bepergian dengan menggunakan pesawat adalah sesuatu yang tidak pernah terpikirkan. Selain faktor biaya yang cukup mahal, rasa ketakutan yang melanda menjadi pertimbangan lain mengapa selama ini saya selalu bepergian dengan transportasi darat. Namun AirAsia mengubah segalanya.

Saya adalah seorang Corporate Communications di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang Teknologi Informasi, telah berkeluarga dan memiliki satu orang anak perempuan. Sebagai seseorang yang menjalankan tugas komunikasi di perusahaan, mobilitas saya sehari-hari cukup tinggi bahkan terkadang mengharuskan saya untuk melakukan tugas di luar kota. Namun yang terkadang menyulitkan adalah ketika saya harus bepergian ke kota yang cukup jauh, yang hanya bisa diakses melalui transportasi udara. Kendalanya adalah saya memiliki sedikit phobia bepergian dengan pesawat. Sebetulnya ketakutan ini lebih karena saya belum terbiasa naik pesawat.

Sedikit flasback saja, dibandingkan rekan-rekan saya mungkin saya seorang yang agak ndeso. Sekitar 10 tahun lalu disaat rekan-rekan yang lain sudah sering bepergian dengan pesawat ke dalam maupun luar negeri, saya malah belum pernah bepergian dengan pesawat. Bukan karena tidak ingin (keinginan malah menggebu gebu), namun lebih karena biaya pesawat yang cukup mahal dan faktor phobia tadi. Namun sekitar tahun 2005, keadaan lah yang memaksa saya harus ‘terbang’ ke luar kota. Ketika harus mendampingi salah satu klien ke Balikpapan dan menggunakan salah satu maskapai swasta (yang kini sudah tidak beroperasi). Singkat cerita, akhirnya saya berhasil bepergian dengan pesawat Jakarta-Balikpapan, walaupun jujur selama penerbangan saya memilih untuk memejamkan mata saja (walaupun sebenarnya tidak tidur).

Semenjak itu, intensitas bepergian saya dengan menggunakan pesawat cukup banyak dan saya pun mulai terbiasa bepergian dengan transportasi udara. Seluruh penerbangan tersebut pun merupakan business-trip. Untuk meyakinkan diri saya bepergian dengan pesawat, pada akhirnya pun saya selalu meminta kepada perusahaan untuk bepergian dengan maskapai nasional yang memiliki harga lebih mahal, which is secara image lebih safely daripada maskapai swasta.

Ketika tahun 2009 saya menikah, suatu ketika saya ingin mengajak istri untuk berbulan madu ke luar kota. Selain itu, saya pun ingin membahagiakan istri dengan mengajak naik pesawat. Namun terus terang, untuk bepergian sendiri dengan maskapai nasional rasanya tidak mungkin, karena cukup menguras biaya. Disaat itulah saya mengenal AirAsia. Kebetulan saat itu AirAsia cukup gencar mempromosikan berbagai tujuan destinasi dalam dan luar negeri dengan biaya yang sangat terjangkau. Entah bagaimana awalnya, saya diam-diam mengikuti setiap perkembangan promosi yang dilakukan AirAsia. Apalagi ditambah beberapa rekan saya banyak yang melakukan traveling dengan AirAsia. Tak ketinggalan, saya pun meminta komentar mereka bagaimana rasanya terbang dengan AirAsia. Dari testimonial yang saya rangkum, sebagian besar mengatakan, “udah nyaman, murah lagi!”. Embel-embel “Asia” lah yang mungkin meyakinkan saya bahwa maskapai ini berkelas internasional dan berbeda dengan maskapai yang lainnya. Akhirnya saat terdapat promo AirAsia di bulan Mei 2009 dengan harga Rp 169.000/perjalanan/orang, saya pun memutuskan memesan tiket AirAsia untuk penerbangan ke Bali di bulan Agustus 2009.

September 2009, saat yang dinanti pun tiba. Saya bersama istri (yang untuk pertama kalinya naik pesawat) pun berangkat menuju Bali. Awalnya istri saya (yang ketika itu tengah mengandung 4 bulan) pun agak khawatir. Namun setelah take-off, pelan-pelan kekhawatirannya hilang. Selama penerbangan pun berjalan lancar, hingga saat landing yang sangat mulus.

Pertama kalinya bepergian dengan pesawat bersama istri

Pertama kalinya bepergian dengan pesawat bersama istri

Kami menghabiskan waktu empat hari di Pulau Dewata. Dan ketika waktu kepulangan, hal yang sama ketika berangkat pun kami rasakan. Keramahan petugas AirAsia dalam melayani dan penerbangan yang tepat waktu menjadi credit-point tersendiri bagi kami. Tak ketinggalan, saya pun turut menceritakan pengalaman terbang bersama AirAsia kepada kerabat maupun sanak saudara. Saya pun berkeinginan suatu hari nanti bisa kembali bepergian dengan AirAsia, terutama setelah nantinya memiliki anak dan ingin mengajak sang buah hati bepergian dengan AirAsia. Tahun 2010 anak kami pun lahir. Seorang perempuan cantik yang kami namakan Felisha Annaila Malika Mulya.

Seiring berjalannya waktu, saya melihat AirAsia terus melakukan berbagai ekspansi untuk destinasi tujuan penerbangannya. Di tangan sang CEO Tony Fernandes, AirAsia tampak tumbuh menjadi semakin besar. Salah satunya adalah menjadi sponsor utama klub sepakbola Liga Utama Inggris yaitu Queens Park Rangers (QPR). Bagi saya, hal ini tentunya sangat prestisius mengingat Liga Utama Inggris merupakan kiblat utama sepakbola dunia, yang tentunya dengan mensponsori klub di liga tersebut akan meningkatkan brand image dari AirAsia sendiri terutama adalah mempermudah kesempatan bagi penggemar Liga Utama Inggris untuk menonton langsung ke Inggris dengan menggunakan maskapai AirAsia.

Sementara itu, kehadiran sang buah hati tentu membuat keluarga kami sangat bergembira. Waktu demi waktu, dia pun semakin besar dan ada keinginan bagi saya untuk mengajak istri dan anak berjalan-jalan ke luar kota. Akhir tahun 2011, saya melihat ada promo AirAsia sebesar Rp 129.000/perjalanan/orang untuk ke Bali. Terus terang, saya sangat terkesan dengan Bali yang memiliki sejuta pesona pariwisata dan akhirnya saya pun membeli tiket AirAsia untuk keberangkatan September 2012. Masih agak lama memang, namun kami dapat merencanakan liburan ini jauh-jauh hari dan memberikan surprise kepada si kecil.

Tak terasa waktu berjalan, tiba lah di bulan September 2012 saat keberangkatan kami ke Bali. Si kecil tampak antusias menyambut penerbangan pertamanya. Sejak pagi, ia sudah tak sabar untuk segera berangkat. Saat tiba waktunya berangkat dan berada di dalam kabin pesawat, saya memasangkan earplug di telinganya. Karena khawatir telinganya akan sedikit mendengung/bindeng saat penerbangan. Namun nyatanya, ketika terbang ia malah sangat exciting. Sempat beberapa kali ada turbulence dikarenakan cuaca saat itu agak berawan, namun si kecil tampak tidak terpengaruh. Ia malah tetap tenang dan terus memainkan boneka yang dibawanya. Hingga pada akhirnya ia pun tertidur lelap. Sesampainya di Bali, ia tampak gembira dan menyempatkan berfoto di depan pesawat AirAsia.

Dengan earplug di telinganya, si kecil bersiap merasakan pengalaman pertama terbang.

Dengan earplug di telinganya, si kecil bersiap merasakan pengalaman pertama terbang.

Berulang kali membuka tutup tempat makan yang berada di kursi. Maklum baru pertama kali hehehe

Berulang kali membuka tutup tempat makan yang berada di kursi. Maklum baru pertama kali hehehe

Di tengah perjalanan, akhirnya ia pun tertidur.

Di tengah perjalanan, akhirnya ia pun tertidur.

Merem bukan karena ngantuk lho...tapi silaauuuu :)

Merem bukan karena ngantuk lho…tapi silaauuuu 🙂

Hingga saat kepulangan kami ke Jakarta lima hari kemudian, penerbangan dengan AirAsia begitu berkesan di hati kami. Terima kasih AirAsia yang telah memberikan pengalaman dan kenyamanan bagi kami dan keluarga dalam berpetualang. Semoga pelayanannya terus ditingkatkan dan tentunya tetap mengusung “the best low-cost airline”.

AirAsia mewujudkan mimpi keluarga kecil kami traveling. Terima kasih...

AirAsia mewujudkan mimpi keluarga kecil kami traveling. Terima kasih…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s